-->

Minggu, 14 Agustus 2011

MiftahulJannah (Kunci Surga) = Laa Ilaha Illallah



Penjelasan


Kunci merupakan alat untuk membuka pintu, sehingga ketika kita ingin memasuki rumah dalam keadaan pintu tertutup, maka kita menggunakan kunci, kunci bukan sekedar kunci, namun kunci yang dimaksud adalah kunci asli, ia memiliki gigi-gigi yang sempurna, sehingga ia pun dapat membukakan pintu tersebut dan akhirnya kita dapat memasuki rumah dalam keadaan selamat dan bahagia.

Demikian halnya ketika seorang hamba, menginginkan masuk Surga Alloh Subhanahu wa Ta'ala, maka hendaknya ia mengetahui dan memiliki kunci yang dapat menghantarkannya ke Surga Alloh Subhanahu wa Ta'ala,.Kunci tersebut adalah “Kalimat Tauhid atau Kalimat Syahadat atau disebut juga Kalimat Al-Haq/ Kebenaran”, sebagaimana firman-Nya: “…dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa'at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa'at ialah) orang yang mengakui yang haq (tauhid) dan mereka meyakini(nya).” (QS. Az-Zukhruf [43] : 86)

Syahadat kebenaran adalah kesaksian bahwa tidak ada Ilah yangberhaq disembah melainkan Alloh Subhanahu wa Ta'ala dan bahwa Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam adalah Rasul (utusan)Nya, sekaligus mengandung penafian (penolakan) ibadah kepada selain-Nya, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam: “Barangsiapa yang mengatakan bahwa tidak ada Ilah yang berhaq disembah kecuali Allah dan kafir kepada apa yang diibadahi selain Allahmaka harta dan darahnya menjadi haram kecuali apa yang menjadi haqnya dan hanya pada Allahlah perhitungannya.” (HR. Muslim).

Di antara nash/dalil tentang makna syahadat bahwa tidak ada Ilah yang berhaq disembah selain Allah adalah; “Sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya." (QS. Al-A’raf [7] : 59).
“…Maka barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah….” (QS. Al-Baqarah [2] : 256),“Katakanlah: Sesungguh-nya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS. Al-An’am [6] : 162-163).

Bagian kedua dari syahadat kebenaran adalah kesaksian bahwa Muhammad adalah Rasul Alloh Shalallahu alaihi wa Sallam. Alloh Subhanahu wa Ta'ala, berfirman: “Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya, dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya makasesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS. Al-Jiin [72] : 23).

Alloh Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyaa’ [21] : 107).
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yangmukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab [33] :36).

Suatu kali Wahb ibn Al-Munabbih di tanya oleh seseorang: “Apakah kunci Surga itu adalah kalimat Laa Ilaha Illallah?” Maka ia menjawab: “Benar. Akan tetapi bukanlah sebuah kunci jika tidak memiliki gigi-gigi, jika engkau datang dengan membawa kunci, dan di kunci tersebut terdapat gigi-giginya, maka kunci tersebut dapat membukakan untukmu, namun jika kunci tersebut tidak memiliki gigi-giginya, maka kunci tersebut tidak dapat membukakan pintu untukmu.”

Hasan Al-Bashri Rahimahulloh pernah ditanya olehseseorang: “Manusia banyak yang mengatakan bahwa jika seseorang mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallah pasti akan masuk ke dalam Surga?” Kemudian ia berkata: “Barang-siapa yang mengucapkannya dan menunaikan hak-haknya dan kewajiban-kewajibannya maka pasti ia akan masuk ke dalam Surga.”

Kalimat Laa Ilaha Illallah, adalah kalimat yang agung dan mulia, sebuah kalimat yang jika diucapkan maka akan menyelamatkan pengucapnya dari ancaman Alloh Subhanahu wa Ta'ala yaitu panasnya api neraka. Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda: “Maka sesungguhnya Allah telah mengha-ramkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah, semata-mata karena meng-harap wajah Allah.” (HR. Bukhari).

Namun jika seorang Muslim hanya mengucapkannya saja tanpa memenuhi syarat-syarat yang ada di dalamnya, maka apa yang ia ucapkan tidak bermanfaat. Syarat adalah sesuatu yang tanpa keberadaannya, maka yang disyaratkan itu menjadi tidak sempurna atau tidak dapat terealisasi. Maka syarat sya-hadat adalah sesuatu yang tanpa keberada-annya, maka syahadat itu dianggap tidak sah. Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahanyang berhaq diibadahi melainkan Allah. Dan sesungguhnya bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, dan mendirikan shalat, menunai-kan zakat. Maka jika mereka telah melakukan hal tersebut terjagalah mereka dariku darah dan harta mereka kecuali dengan hak Islam, dan hisabnya (perhitungannya) dikembalikan kepada Allah.” (HR. Bukhari).

Syaikh Abdullah ibn Abdul Aziz Al-Jibrin Rahimahulloh mengatakan yang dimaksud dengan hak Islam adalah melaksanakan syarat-syaratnya dan menjauhi pembatal-pembatalnya. Adapun syarat dari kalimat Laa Ilaha Illallah adalah;
1. Al-Ilmu. Artinya mengetahui makna syahadat dengan kedua dimensinya, penafian (peniadaan) dan penetapannya.
Pengetahuan tentang arti Laa Ilaha Illa-llah adalah hal utama bagi seseorang yang bersaksi atas syahadat tersebut. Tanpa mengetahui artinya, tidak ada gunanya lafadz syahadah itu bagi yang bersaksi. Alloh Subhanahu wa Ta'ala berfirman:“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) yang berhakdisembah selain Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad [70] : 19).
Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yangmeninggal dunia dan mengetahui bahwa tidak ada Ilah (sesembahan) yang berhak di sem-bah selain Allah, ia pasti memasuki surga.” (HR. Muslim).

2. Al-Yaqin. Artinya adalah keyakinan tentangkebenaran syahadahnya.
Alloh Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat [49] : 15).

Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda: “Siapa yang berjumpa denganku dari balik dinding ini dan dia bersaksi bahwa Laa ilaaha Illallah dan meyakini dengan hatinya, maka berikanlah kabar gembira bahwa ia masuk ke dalam Surga.” (HR. Muslim).

3. Al-Inqiyad. Artinya adalah tunduk melaksanakan kandungannya.
Alloh Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4] : 125).

4. Al-Qobul.Artinya adalah menerima, tidak menolak kandungannya.
Alloh Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (tiada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: "Apakah sesungguhnya kami harus me-ninggalkan sembahan-sembahan kami karenaseorang penyair gila?" (QS. Ash-Shaafat [37] : 35-36).

5. Al-Ikhlas. Artinya adalah seseorang bersya-hadat dan melaksanakan isinya hanya karena Alloh Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda: “Manusia yang paling berbahagia dengan syafa’atku adalah orang yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah dengan tulus ikhlas dari hati dan jiwanya.” (HR. Bukhari).

6. Ash-Sidq. Artinya adalah bahwa yang diucapkan dari syahadah ini adalah benar-benar bersemayam di dalam hati dan bukanhanya di mulut saja.
Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah dengan sebenar-benarnya dari dalam lubuk hatinya, niscaya masuk Surga.” (HR. Ahmad).

7. Al-Mahabbah. Artinya adalah mencintai dari apa yang ia ucapkan, mencintai orang yang mengucapkan dan konsisten di atasnya. Alloh Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah, dan jika seandai-nya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allahsemuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al-Baqarah [2] : 165).

Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Alloh Subhanahu wa Ta'ala,. Maka inilah hakikat sebenarnya dari kalimat Laa Ilaha Illallah yang jika diucapkan oleh seorang Muslim dapat bermanfaat di akhirat kelak, dan ia akan memasuki Surga yang telah Alloh Subhanahu wa Ta'ala sediakan. Wallahu Ta’ala A’lam.



Tafsir dan kajian Surat Al-Baqarah 2:3



Terjemahan



1. Alif laam miin.
2. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa ,
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki] yang Kami anugerahkan kepada mereka.
4. dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
5. mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.


Tafsir At- Tabari Qs Al-baqarah 2:3


(Al-Gaibi) berarti segala hal yang masih tersembunyi. Oleh karena itu, beriman kepada perkara yang gaib berarti membenarkan adanya surga dan neraka, pahala dan siksa, juga adanya hari kebangkitan, serta membenarkan adanya Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, dan segala hal yang sebelumnya disangkal oleh orang-orang Arab jahiliah. padahal, perkara-perkara itu adalah perkara-perkara yang wajib diimani walaupun hakikatnya masih tersembunyi.

Firman allah (yuqimunas-salata) berarti menunaikan shalat dengan menyempurnakan ruku dan sujudnya. memelihara kekhusy'uannya dan memahami bacaannya, serta menegakkan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata. itulah maksud dari mendirikan shalat menurut pendapat dari ibnu 'Abbas. Shalat itu sendiri secara etimologis berarti do'a, sehingga orang yang mendirikan shalat pada hakikatnya adalah seorang yang sedang memohon kepada Allah SWT agar mendapatkan pahala darinya, serta agar terpenuhi segala hajat hidupnya di dunia.

adapun tafsir (Dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka) menurut ibnu 'Abbas adalah orang-orang yang menunaikan zakat mal (harta). sedangkan menurut Al-Dahhak adalah orang-orang yang menginfakkan sebagian harta sesuai batas kemampuan. Kedua penafsiran itu menurut At-Tabari dapat dipadukan, karena baik zakat maupun infaq pada dasarnya sama-sama merupakan upaya seorang hamba untuk mengeluarkan sebagian hartanya yang halal agar memperoleh keridhaan dari Allah SWT (Tafsir At-Tabari Jilid I,2001 :240-250)




Tafsir Ibnu Kasir Qs Al-baqarah 2:3



ibnu Abbas berkata (Beriman) berarti membenarkan. "Mua'mmar meriwayatkan Az-Zuhri berkata "iman berarti perbuatan." Abu Ja'far ar-Razi meriwayatkan dari Rabi bin Anas, kata(beriman) berarti takut.

Menurut Ibnu jarir, definisi yang tepat untuk kata (beriman) adalah orang-orang yang mengimani hal gaib dengan perkataan, perbuatan dan keyakinan. takut kepada Allah SWT, termasuk dalam makna iman jika disertai pembenaran berupa perkataan dan perbuatan. secara prinsip, kata "iman" mengakumulasi keyakinan terhadap Allah Swt, kitab-kitab-Nya, dan para rasul-Nya jika dibuktikan degan perbuatan.

Abu ja'far Ar-Razi meriwayatkan dari Rabi bin Anas, Abu Aliyah berkata, "Maksud (Yang beriman kepada yang gaib) adalah mereka yang mengimani Allah Swt, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, hari kiamat, surga dan neraka, serta pertemuan dengan-Nya. termasuk makna al gaib adalah mengimani kehidupan pasca kematian."

menurut ibnu Abbas, kalimat (Dan mereka mendirikan shalat) bermakna mereka menunaikan shalat sesuai dengan ketentuan-ketentuannya. Dahhak meriwayatkan , ibnu Abbas r.a berkata "Melaksanakan shalat berarti menyempurnakan gerakannya dengan ruku' , sujud, dan tilawah secara khusuk karena Allah SWT". Ali bin Abi Talhah meriwayatkan , ibnu Abbas berkata, "kalimat ( dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka ) bermakna mengeluarkan zakat dari harta yang dimiliki." (Al-Misbah Al-Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu kasir ,1999:28-29)


Hadis Shahih



Rasulullah bersabda ." Ada tiga perkara yang barang siapa yang mengumpulkan ketiga hal itu dalam dirinya, maka ia telah dapat mengumpulkan keimanan secara sempurna. Yaitu
  1. Memperlakukan orang lain sebagaimana engkau suka dirimu diperlakukan orang lain
  2. Memberi salam terhadap setiap orang (yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal)
  3. dan mengeluarkan infak di jalan Allah, meskipun hanya sedikit (HR Bukhari ,9)

sumber

Sabtu, 13 Agustus 2011

Kandungan surah ke-1 "Al-FATIHAH"



Terjemah

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (QS. 1:1)
  1. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam , (QS. 1:2)
  2. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. 1:3)
  3. Yang menguasai hari pembalasan (QS. 1:4)
  4. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan (QS. 1:5)
  5. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (QS. 1:6)
  6. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni'mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (QS. 1:7)
ada 3 qira'at (cara) membaca ayat ini :
  1. Maliki yaumid-diin
  2. Maaliki yaumid-din
  3. Maalika yaumid-din
qira'at pertama dan kedua diperbolehkan sedang qira'at ketiga dilarang berdasarkan ijma' ulama.


Tafsir At-Tabari



jika dibaca (Maliki yaumid-diin) maka tafsirnya adalah :
hanya Allah penguasa di hari pembalasan, tidak satu pun makhluk memiliki kekuasaaan saat itu, walaupun di dunia mereka adalah raja-raja adikuasa. seperti firman Allah, (pada hari mereka keluar (dari kubur); tiada satupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah.( Lalu Allah berfirman), " kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini ?" kepunyaan Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan). (QS Gafir 40:16)

jika Ayat tersebut di baca (maaliki yaumid-din) maka tafsinya adalah hanya Allah pemilik hari pembalasan, tidak satu pun yang memiliki kewenangan untuk memerintah kecuali Dia.

dan jika ayat tersebut dibaca (maalika yaumid-din) maka tafsirnya, hamba yang membaca ayat ini memanggil, wahai yang maha memiliki Hari Pembalasan. At-Tabari sendiri lebih memilih qira'at pertama karena maknanya lebih komprehensif.

adapun (yaumiddiin) tafsirnya adalah
  1. Hari Penghisaban seluruh makhluk
  2. Hari Kiamat
  3. hari ketika Allah membalas amal hamba-hamba-Nya
  4. hari ketika manusia diberi balasan sesuai perhitungan Amalnya. (tafsir At-Tabari jilid I, 2001: 149-159



Hadis Sahih

Hadis riwawat Abu hurairah ra, dari Nabi saw. beliau bersabda, "nama yang paling jelek di sisi Allah adalah seorang yang bernama malikul-Muluk." Ibnu Abu Syaibah menambahkan dalam riwayatnya , "tidak ada malik (raja) kecuali Allah Ta'ala" .(HR. Muslim, 3993)


Sumber :